Efektivitas Posisi Orthopneic terhadap Penurunan Dispnea pada Pasien dengan Tuberkulosis Paru

Authors

  • Rafa Hervina Institut Kesehatan Rajawali
  • Budi Rustandi Institut Kesehatan Rajawali
  • Tonika Tohri Institut Kesehatan Rajawali
  • M Deri Ramadhan Institut Kesehatan Rajawali

DOI:

https://doi.org/10.31004/joecy.v6i1.8993

Keywords:

Tuberkulosis Paru, ortthopneic, , Dispnea.

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan hingga kini masih menjadi masalah kesehatan global. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO), Indonesia termasuk tiga negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Secara klinis, TB paru ditandai dengan batuk berdahak, sesak napas, peningkatan frekuensi pernapasan, serta penurunan saturasi oksigen. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diterapkan adalah posisi orthopneic. Posisi ini membantu meningkatkan ekspansi paru, memaksimalkan kerja diafragma, serta meningkatkan saturasi oksigen sehingga dapat mengurangi sesak napas. Intervensi keperawatan berbasis bukti (EBN) yang diterapkan dalam kasus ini melibatkan penggunaan posisi orthopneic untuk pasien TB Paru yang mengalami dispnea.

Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan posisi orthopneic terhadap penurunan dispnea pada pasien Tuberkulosis Paru dengan efusi pleura.

Metode. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, serta studi dokumentasi dan kepustakaan.

Hasil. Hasil studi kasus menunjukkan adanya perbaikan kondisi pernapasan setelah diberikan intervensi posisi orthopneic, ditandai dengan penurunan frekuensi pernapasan, berkurangnya keluhan sesak napas, hilangnya bunyi napas tambahan, serta peningkatan saturasi oksigen.

Kesimpulan. Pemberian posisi orthopneic terbukti efektif dalam meningkatkan fungsi pernapasan pada pasien TB Paru disertai efusi pleura.

References

Anshori, A. H. (2024). Pengaruh posisi orthopnea terhadap penurunan sesak napas pada pasien tuberculosis

paru di ruang dien RSUD dr. abdoer Rahem Situbondo. Universitas dr. Soebandi.

Astikawati, R., Dewi, E. K. (2018). At A Glance Anatomi Dan Fisiologi. Jakarta; Penerbit erlangga

Brunner & Suddarth. (2002). Keperawatan Medical Bedah (S. C. Smeltzer, Ed,;8th ed).

Depiyanti, N. l. G., Sukmandari, N. M. A 7 Prihandini, C. W. (2025). Studi kasus asuhan keperawatan pasien

tuberkulosisi dengan masalah pola napas tidak efktif diberikan tindakan posisi orthopnea. Jurnal Ilmu

Kesehatan Assyifa. 3(2). 153-165.

Dzakiyah, R. N., Karima, U. Q., Simanjorang, C & Apriningsih. (2023). Determinan kejadian tuberculosis

paru pada usia dewasa di wilayah kerja puskesmas parungpanjang kabupaten bogor‟, Jurnal

Penelitian Kesehatan Suara Forikes. 14 (3). 603-608.

Empraninta, H. E., Supardi & Mahdalena, P. S. (2023). Pengaruh penggunaan posis orthopnea terhadap

penurunan sesak napas pada pasien TB Paru. Jurnal Prima Medika Sains. 5(1). 57-61.

Giancinta, M. S & Ri‟Pi, M. (2024). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Tuberkulosisi Paru Di Ruang

Santo Yoseph 6 Rumah Sakit Stella Maris Makassar. STIKES Stelaa Maris. Makassar.

Guyton, A. C., & Hall, J. E. (2021). Textbook of Medical Physiology (14th ed.). Philadelphia: Elsevier.

Haidar, H. S., Kartika, D. E., Saputra, B., Sandra & Utami, A. (2025). Pengaruh posisi orthopneic terhadap

penurunan frekuensi penapasan pada pasien tuberculosis paru. Jurnal Keperawatan Tropis Papua.

(2). 107-112

Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2018). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing (14th ed.).

Philadelphia: Wolters Kluwer.

Kirnantoro & Maryana. (2025). Anatomi Fisiologi. Yogyakarta; Pustaka baru press.

Kumenep, E.V & Faustino, A. (2023). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Tuberculosis Paru Di

Ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD Labuang Baji Makassar. Stikes Stella Maris. Makassar.

Krishna, R,., Antoine, M. H., Alahmadi, M. H & Rudrappa, M. (2024). Efusi Pleura. National center for

biotechnology information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448189/#article-20929.s8

Making, M. A., Banhae, Y. K, Aty, M. Y. V., Abanit, Y. M., Selasa, P & Israfil, (2023). Analisa Faktor

Pengetahuan Dan Sikap Dengan Perilaku Pencegahan TB Paru Pada Kontak Dengan Serumah

Selama Era New Normal Covid 19‟, Jurnal Penelitian Perawat Professional. 5 (1). 43-50.

Manangkalangi, V. V. (2023). Asuhan Keperawatan tuberculosis Paru Di Rumah Sakit Manembo-Nembo

Bitung. Universitas De La Salle. Manado.

Manurung, N., Harahap, R. H., Siregar, F. A & Andayani, L. S. (2023). Tuberculosis dan Permasalahnnya

(Indikator ketidakpatuhan pengobatan penderita tuberculosis). Jakarta; Trans Info Media.

Mubin, A. H. (2007). Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam : Diagnosis Dan Terapi. Ed. 2. Jakarta; EDC. Naga, S. S. (2013). Buku Panduan Lengkap Ilmu Penyakit Dalam. Yogyakarta; DIVA Press.

Nursalam. (2020). Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis. Ed. 5. Jakarta; Salemba

medika.

Potter & Perry. (2017). Buku Ajar Fundamental Keperawatan (volume 1)

Sari, G. K., Sarifuddin & Setyawati, T. (2022). Tuberkulosis Paru Post Wodec Pleural Efusion: Laporan

Kasus, Jurnal Medical Profession (MedPro)., 4 (2). 174-182.

SDKI SIKI SLKI PPNI. (2017). SDKI

Downloads

Published

13-03-2026

How to Cite

Hervina, R., Rustandi, B. ., Tohri, T. ., & Ramadhan, M. D. . (2026). Efektivitas Posisi Orthopneic terhadap Penurunan Dispnea pada Pasien dengan Tuberkulosis Paru. Journal of Innovative and Creativity, 6(1), 17297–17302. https://doi.org/10.31004/joecy.v6i1.8993

Issue

Section

Articles