Persepsi dan Kendala Masyarakat dalam Pengurusan PBG serta Implikasi terhadap Peran Arsitek di Kota Makassar

Authors

  • Ivan Fachrul Marsa Fakultas Teknik, Universitas Negeri Makassar
  • Andi Abidah Fakultas Teknik, Universitas Negeri Makassar

DOI:

https://doi.org/10.31004/joecy.v5i2.894

Keywords:

Perizinan Bangunan, PBG, Arsitek, Persepsi Masyarakat

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi masyarakat dan kendala yang dihadapi dalam proses pengurusan Perizinan Bangunan Gedung (PBG) di Kota Makassar, serta menganalisis implikasinya terhadap peran arsitek dalam sistem perizinan tersebut. Permasalahan yang sering muncul dalam pengurusan PBG antara lain adalah kompleksitas prosedur administratif, minimnya literasi masyarakat terhadap regulasi teknis bangunan, dan keterbatasan akses terhadap jasa profesional arsitek. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus dan metode kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui wawancara mendalam dan survei terhadap masyarakat yang secara langsung terlibat dalam pengajuan PBG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami kesulitan dalam memahami persyaratan teknis dan administratif, serta kurang mendapatkan pendampingan yang memadai dari pihak arsitek atau instansi terkait. Selain itu, ditemukan bahwa peran arsitek sering kali dibatasi pada aspek desain tanpa keterlibatan aktif dalam proses advokasi perizinan. Temuan ini menunjukkan perlunya penyederhanaan birokrasi PBG serta penguatan posisi arsitek sebagai mitra strategis masyarakat dalam pembangunan yang legal, aman, dan berkelanjutan. Penelitian ini merekomendasikan integrasi peran edukatif dan fasilitatif arsitek dalam sistem pelayanan publik bidang perizinan untuk meningkatkan efektivitas tata kelola pembangunan di tingkat kota

References

Aleksandrov, E., Bourne, L., & Walker, D. (2018). Exploring definitions and uses of urban governance: A systematic review. Cities, 72, 146–155. https://doi.org/10.1016/j.cities.2017.08.012

Arifin, H., & Sari, M. R. (2019). Legalitas bangunan dan peran arsitek di kawasan pesisir urban. Jurnal Tata Kota, 12(2), 89–101.

Bell, B., & Wakeford, K. (2021). Expanding architecture: Design as activism. Metropolis Books.

Carmon, N., & Shamir, U. (2010). Water-sensitive planning: Integrating urban planning and water management in Israel. Water Policy, 12(5), 703–720. https://doi.org/10.2166/wp.2010.117

Dalton, C., Taylor, L., & Thatcher, J. (2022). Governing through code: The politics of public service platforms. Urban Studies, 59(6), 1234–1251. https://doi.org/10.1177/00420980211049811

Glaeser, E. L. (2020). Triumph of the city: How our greatest invention makes us richer, smarter, greener, healthier, and happier. Penguin Books.

Halim, R., & Prasetyo, A. (2021). Implementasi e-PBG dan tantangan digitalisasi pelayanan publik. Jurnal Administrasi Publik, 19(3), 210–225.

Imrie, R., & Street, E. (2011). The hidden dimensions of the urban design code: Discretion and negotiation in the planning process. Urban Studies, 48(2), 251–267. https://doi.org/10.1177/0042098009360680

Innes, J. E., & Booher, D. E. (2015). Planning with complexity: An introduction to collaborative rationality for public policy. Routledge.

Lamb, Z., Wang, J., & Koh, I. (2021). Smart cities and the reproduction of social inequalities: Examining digital infrastructure in Southeast Asia. Technology in Society, 64, 101494. https://doi.org/10.1016/j.techsoc.2020.101494

Larsson, N. K. (2019). Designing sustainable cities: Decision making tools and implementation strategies. Earthscan.

Lestari, R., & Mahendra, Y. (2022). Peran arsitek dalam pengurusan PBG di kota wisata. Jurnal Rancang Kota, 14(1), 45–58.

Nugroho, T. (2017). Koordinasi lintas instansi dalam pelayanan IMB. Jurnal Reformasi Administrasi, 9(1), 33–49.

Rachmawati, D., Susanto, B., & Nurfadilah, F. (2023). Analisis kebijakan perizinan bangunan di kota besar Indonesia. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 25(1), 66–82.

Roy, A. (2005). Urban informality: Toward an epistemology of planning. Journal of the American Planning Association, 71(2), 147–158. https://doi.org/10.1080/01944360508976689

Roy, A., & AlSayyad, N. (2016). Urban informality: Transnational perspectives from the Middle East, Latin America, and South Asia. Lexington Books.

Sennett, R. (2018). Building and dwelling: Ethics for the city. Farrar, Straus and Giroux.

Suryana, A. (2020). Hambatan masyarakat dalam mengakses jasa arsitek untuk PBG. Jurnal Arsitektur Nusantara, 8(2), 112–127.

Todes, A., Wray, C., & Oranje, M. (2020). Planning and politics: How planners cope with conflicting rationalities. Planning Theory, 19(4), 389–412. https://doi.org/10.1177/1473095219888718

Wahyuni, S., & Kusuma, D. (2018). Keterlibatan arsitek dalam proses perizinan bangunan. Jurnal Arsitektur & Lingkungan Binaan, 7(1), 55–70.

Watson, V. (2020). The planned city sweeps the poor away: Urban planning and 21st century urbanisation. Progress in Planning, 168, 100456. https://doi.org/10.1016/j.progress.2020.100456

Downloads

Published

31-05-2025

How to Cite

Marsa, I. F., & Abidah, A. (2025). Persepsi dan Kendala Masyarakat dalam Pengurusan PBG serta Implikasi terhadap Peran Arsitek di Kota Makassar. Journal of Innovative and Creativity, 5(2), 5416–5425. https://doi.org/10.31004/joecy.v5i2.894

Issue

Section

Articles