Gambaran Karakteristik Obesitas Pada Remaja Di SMA 14 Medan Tahun 2024
DOI:
https://doi.org/10.31004/joecy.v6i1.8922Keywords:
Obesitas, Pola Makan, Aktivitas FisikAbstract
Obesitas pada remaja merupakan permasalahan kesehatan global yang terus mengalami peningkatan signifikan dan berdampak jangka panjang terhadap kualitas kesehatan individu. Data WHO (2020) mencatat lebih dari 340 juta remaja usia 5–19 tahun mengalami obesitas di seluruh dunia, sementara prevalensi obesitas remaja di Indonesia berdasarkan Riskesdas (2018) tercatat sebesar 16,0%. Obesitas pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor meliputi usia, jenis kelamin, pola makan tidak seimbang, serta kurangnya aktivitas fisik yang memadai. Apabila tidak ditangani sejak dini, kondisi ini berisiko memicu komplikasi serius seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit tidak menular lainnya hingga usia dewasa. Survei awal di SMA 14 Medan Tahun 2024 menunjukkan dari 10 siswa yang diukur, sebanyak 6 orang mengalami obesitas berdasarkan nilai Indeks Massa Tubuh di atas batas normal, mengindikasikan tingginya angka kejadian obesitas di lingkungan sekolah tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik obesitas pada remaja di SMA 14 Medan Tahun 2024 berdasarkan usia, jenis kelamin, pola makan, dan aktivitas fisik.
Metode penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dan teknik purposive sampling. Populasi penelitian adalah 976 siswa/siswi SMA 14 Medan, dengan sampel sebanyak 57 responden yang memenuhi kriteria inklusi mengalami obesitas berdasarkan nilai IMT di atas batas normal. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner FFQ (Food Frequency Questionnaire) untuk pola makan, kuesioner IPAQ (International Physical Activity Questionnaire) untuk aktivitas fisik, serta pengukuran IMT menggunakan timbangan dan meteran. Data dianalisis menggunakan analisis univariat statistik deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia 16 tahun paling dominan mengalami obesitas sebesar 49,1%, dengan prevalensi lebih tinggi pada perempuan (59,6%) dibandingkan laki-laki (40,4%). Pola makan mayoritas responden berada pada kategori cukup (71,9%), dan aktivitas fisik sebagian besar berada pada kategori sedang (87,9%). Berdasarkan kategori IMT, sebagian besar responden tergolong Obesitas I (87,9%).
Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa karakteristik obesitas pada remaja di SMA 14 Medan dipengaruhi oleh kombinasi faktor usia, jenis kelamin, kualitas pola makan, dan intensitas aktivitas fisik yang belum optimal, sehingga diperlukan intervensi edukasi gizi dan peningkatan program aktivitas fisik terstruktur di lingkungan sekolah.
References
Adimuntja, R. (2024). Hubungan konsumsi minuman berpemanis gula dan sedentary lifestyle terhadap kejadian obesitas pada remaja usia 16 tahun. Jurnal Kesehatan Remaja Indonesia, 12(2), 45–58.
Annahar, & Hendrati, L. Y. (2022). Faktor hormonal dan psikososial pada kejadian obesitas remaja perempuan di sekolah menengah atas. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia, 6(1), 33–41.
Beck, C. T., & Polit, D. F. (2012). Nursing Research: Generating and Assessing Evidence for Nursing Practice (9th ed.). Lippincott Williams & Wilkins.
Dewita, R. (2021). Kontribusi pola makan berlebih terhadap kejadian obesitas pada remaja sekolah menengah atas. Jurnal Gizi dan Pangan Indonesia, 9(3), 112–120.
Freska, W. (2022). Karakteristik remaja dalam fase transisi perkembangan fisik dan psikologis. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan, 13(1), 22–30.
Habsidiani, & Ruhana. (2023). Pengaruh uang saku dan perilaku konsumsi makanan terhadap status gizi lebih pada remaja. Jurnal Nutrisi dan Kesehatan Masyarakat, 8(2), 67–75.
Hanum, F. (2023). Perbedaan komposisi tubuh dan risiko obesitas berdasarkan jenis kelamin pada remaja. Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi, 11(1), 54–63.
Hardianti, R. (2022). Prevalensi berat badan berlebih pada remaja perempuan berdasarkan perbedaan komposisi tubuh dan kecepatan pertumbuhan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nusantara, 7(3), 88–97.
Hendrawati, S. (2020). Efektivitas program Health in Adolescents (HEIA) dalam meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan angka obesitas remaja di Norwegia Tenggara. Jurnal Promosi Kesehatan Internasional, 5(1), 14–23.
Hidayah, N., & Nasution, R. (2021). Upaya pencegahan obesitas remaja melalui edukasi aktivitas fisik dan optimalisasi konsumsi serat. Jurnal Keperawatan Komunitas, 9(2), 101–110.
Isramilda. (2021). Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian obesitas pada remaja usia sekolah. Jurnal Kesehatan dan Gizi Nusantara, 6(1), 29–38.
Kristiana, L., et al. (2021). Pola makan tidak baik sebagai pencetus obesitas pada remaja: tinjauan perilaku konsumsi makanan tinggi kalori dan rendah serat. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 18(2), 77–86.
Lidiawati, M. (2020). Hubungan pola makan tidak baik dengan kejadian obesitas pada remaja sekolah menengah. Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik, 9(1), 41–50.
Mardiana, D. (2022). Aktivitas fisik sedang pada remaja obesitas dan hubungannya dengan penumpukan lemak tubuh. Jurnal Keperawatan Anak dan Remaja, 4(1), 18–27.
Mardiana, D. (2023). Perubahan pola konsumsi makanan remaja selama masa pandemi COVID-19 dan dampaknya terhadap status gizi. Jurnal Kesehatan Global, 10(2), 55–64.
Mayataqillah, F. (2023). Faktor risiko obesitas pada remaja: tinjauan aktivitas fisik, pola makan, dan asupan nutrisi berlebih. Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia, 11(3), 134–143.
Nopriayarti, E. (2020). Peran jenis kelamin dalam kejadian berat badan berlebih akibat pengaruh hormonal pada masa pubertas remaja. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 8(2), 72–80.
Nursalam. (2020). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis (5th ed.). Salemba Medika.
Purwo, H. (2020). Gambaran kejadian obesitas berdasarkan usia pada remaja sekolah menengah atas. Jurnal Kesehatan Remaja dan Tumbuh Kembang, 5(2), 60–70.
Riskesdas. (2018). Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar 2018. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Rumaf, I. (2023). Dampak konsumsi junk food terhadap ketidakseimbangan zat gizi dan kejadian obesitas pada remaja. Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia, 10(1), 23–32.
Saprudin, A. (2023). Peran pola makan sehat bergizi seimbang dan aktivitas fisik dalam pencegahan obesitas pada anak dan remaja. Jurnal Ilmu Keperawatan Pediatri, 7(1), 44–53.
Sopiah, P., et al. (2021). Hubungan aktivitas fisik kurang aktif dengan kejadian obesitas pada remaja di lingkungan sekolah. Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat, 9(3), 115–124.
Sriwiyanti, E. (2022). Pengaruh penggunaan SMArtphone berlebihan terhadap penurunan aktivitas fisik dan peningkatan risiko obesitas pada remaja. Jurnal Teknologi dan Kesehatan Remaja, 6(2), 80–89.
TaSMAn, A. (2023). Perbedaan persepsi tubuh dan laju pertumbuhan antara remaja perempuan dan laki-laki serta implikasinya terhadap distribusi lemak tubuh. Jurnal Kesehatan dan Psikologi Remaja, 8(1), 36–45.
Telisa, I., Hartati, E., & Haripamilu, A. D. (2020). Penumpukan lemak berlebih akibat ketidakseimbangan energi pada remaja dengan status obesitas. Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang, 15(2), 91–100.
UNICEF. (2020). The State of the World's Children 2019: Children, Food and Nutrition. United Nations Children's Fund.
World Health Organization. (2020). Obesity and Overweight: Key Facts. WHO Press.
Wozniak, A. (2022). Kontribusi asupan soft drink terhadap peningkatan berat badan dan lemak tubuh pada remaja awal. Jurnal Gizi Internasional dan Kesehatan Metabolik, 14(3), 102–111.
Wulandari, R. (2020). Dominasi kelompok umur 16 tahun dalam kejadian obesitas pada remaja sekolah menengah atas. Jurnal Gizi dan Kesehatan Anak Indonesia, 6(1), 25–34.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Lindawati Simorangkir, Amnita Ginting, Diatri Elisa Sianturi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







