Analisis Pembiayaan Layanan Kesehatan HIV Dan AIDS Berbasis Standar Pelayanan Minimal Dengan Pendekatan District Health Account Di Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat

Authors

  • Afdal Kasimur Universitas Cenderawasih
  • Yacob Ruru Universitas Cenderawasih
  • Septevanus Rantetoding Universitas Cenderawasih
  • Hasmi Hasmi Universitas Cenderawasih
  • Agus Zainuri Universitas Cenderawasih
  • Muhammad Akbar Nurdin Universitas Cenderawasih

DOI:

https://doi.org/10.31004/joecy.v5i2.892

Keywords:

HIV/AIDS, pembiayaan kesehatan, Standar Pelayanan Minimal, District Health Account, Teluk Bintuni

Abstract

Layanan HIV dan AIDS telah menjadi bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Indonesia. Namun, di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, pencapaian indikator layanan HIV masih sangat rendah. Fragmentasi pembiayaan, lemahnya koordinasi lintas sektor, serta keterbatasan sumber daya manusia menjadi hambatan utama dalam optimalisasi program. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik pengelolaan, persepsi pemangku kepentingan, serta faktor pendukung dan penghambat dalam tata kelola pembiayaan layanan HIV dan AIDS berbasis SPM, dan memberikan rekomendasi optimalisasi melalui pendekatan District Health Account (DHA). Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan antara Januari hingga Maret 2025 melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh informan kunci dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas, serta analisis dokumen terkait alokasi dan realisasi anggaran HIV tahun 2021–2024. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola-pola utama dalam pengelolaan dan tantangan pembiayaan layanan HIV. Hasil: Ditemukan empat isu utama dalam tata kelola pembiayaan layanan HIV dan AIDS. Pertama, terdapat fragmentasi sumber pendanaan (BOK, APBD, JKN, Global Fund) yang belum terintegrasi secara optimal. Kedua, pemahaman pemangku kepentingan terhadap mekanisme pembiayaan berbasis SPM masih rendah, yang berdampak pada perencanaan yang tidak tepat sasaran. Ketiga, keterbatasan tenaga terlatih dan lemahnya sistem pelaporan menghambat pemantauan program. Keempat, hambatan geografis serta stigma sosial memperburuk akses dan pemerataan layanan. Pendekatan DHA dinilai relevan untuk memetakan aliran dana dan mendorong transparansi serta efisiensi anggaran. Kesimpulan: Optimalisasi pembiayaan layanan HIV dan AIDS di daerah memerlukan reformasi perencanaan dan penganggaran, peningkatan efisiensi penggunaan dana, penguatan advokasi lintas sektor, serta sistem akuntabilitas dan transparansi yang terintegrasi dan berkelanjutan.

References

Aid, R. (2015). Koordinasi Program HIV dan AIDS di Era Desentralisasi: Studi di Provinsi Papua dan Kalimantan Timur. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Au Yong, H., Adisasmito, W., & Cristea, V. (2021). Resilient Health Financing Systems in the Face of Demographic and Epidemiological Shifts. Global Health Review, 9(2), 77–86.

Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni. (2025). Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni Tahun 2023. Teluk Bintuni: Dinas Kesehatan.

Harmana, N. (2006). Fragmentasi Sumber Dana Kesehatan dan Tantangan Integrasi Program. Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia, 1(2), 45–53.

Harmana, N., & Adisasmito, W. (2006). Kesiapan Pemerintah Daerah dalam Pembiayaan Kesehatan di Era Desentralisasi. Jakarta: Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan Universitas Indonesia.

Hauck, K. (2019). Budgeting for Health in Decentralized Systems: The District Health Account Approach. Health Policy and Planning, 34(1), 29–36.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Petunjuk Teknis Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.

Lestari, W. (2018). Evaluasi Pendanaan Program HIV dan AIDS di Kabupaten Jayapura. Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia, 6(1), 22–30.

Murniati, A. (2020). Efektivitas Pemanfaatan Dana BOK untuk Kegiatan Promotif dan Preventif di Puskesmas. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 14(4), 287–296.

Murniati, A., Supriyanto, S., & Indrayanti, R. (2020). District Health Account: Strategi Penguatan Transparansi Pembiayaan Kesehatan Daerah. Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia, 6(1), 23–31.

Perwira, L. (2016). Penguatan Sistem Kesehatan Daerah dalam Pengelolaan Program TB. Jurnal Sistem Kesehatan, 8(3), 191–199.

Rahmaniawati, R. (2007). Ketimpangan Alokasi Anggaran Kesehatan dan Implikasinya terhadap Akses Layanan di Daerah Tertinggal. Jurnal Administrasi Publik, 4(2), 45–53.

Ramon, F. (2016). Analisis Multi-Sumber Pembiayaan Program HIV dan AIDS di Kota Bengkulu. Jurnal Kesehatan dan Kebijakan, 5(2), 104–112.

Soewondo, P., Widyastuti, S., & Tandon, A. (2021). Indonesia Health Financing System Review: Challenges and Opportunities for Reforms. Washington, DC: World Bank.

Wardani, M., Prabowo, T. J., & Hidayat, B. (2015). Analisis District Health Account untuk Efisiensi Pembiayaan Kesehatan di Indonesia. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, 18(3), 121–128.

Downloads

Published

09-06-2025

How to Cite

Kasimur, A., Ruru, Y., Rantetoding, S., Hasmi, H., Zainuri, A., & Nurdin, M. A. (2025). Analisis Pembiayaan Layanan Kesehatan HIV Dan AIDS Berbasis Standar Pelayanan Minimal Dengan Pendekatan District Health Account Di Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat. Journal of Innovative and Creativity, 5(2), 5908–5929. https://doi.org/10.31004/joecy.v5i2.892

Issue

Section

Articles