PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU ANAK ATAS DEMO PENJARAHAN RUMAH DPR (PERSPEKTIF PERLINDUNGAN ANAK)
DOI:
https://doi.org/10.31004/joecy.v6i1.8756Abstract
This study aims to analyze the criminal responsibility of child offenders in the context of the looting of a member of the DPR's house that occurred during a demonstration. Based on empirical research conducted at Polrestabes Semarang, along with interviews with AKP Agus Tri Yulianto, S.H., M.H., the Head of the Women and Children Protection Unit (PPA), it was found that child offenders have characteristics that differ from those of adults. According to Law No. 11 of 2012 on the Child Criminal Justice System, children in conflict with the law are those aged 12 to 18, while children under 12 cannot be held criminally responsible. The law enforcement process for children must focus on rehabilitation and nurturing, in line with the principles of restorative justice. The research also revealed that Polrestabes Semarang has implemented child protection principles, including the rights of children from arrest to trial, as outlined in the Child Criminal Justice System Law and the Child Protection Law. A restorative justice approach and diversion mechanism were observed in case management, where mediation was carried out to reach a peaceful resolution. However, challenges faced include limited human resources, uneven understanding among officials, and a lack of child-friendly facilities. This study emphasizes the importance of legal protection for children and the need to strengthen the capacity of officials and inter-agency coordination to ensure the best interests of child offenders.
References
Afandi, A., & Zaini, M. (2024). Analisis yuridis pembatasan hak menyampaikan pendapat di muka umum dalam
negara demokrasi Indonesia. Jurnal HAM, 15(1), 55–74.
Anisari, R. (2023). Efektivitas penerapan restorative justice sebagai upaya meminimalisasi pidana terhadap anak
pada tahap penuntutan. Journal of Legal Philosophy.
Anggraeni, T. (2021). Peran kepolisian dalam perlindungan anak berhadapan dengan hukum. Jurnal Penelitian
Hukum, 18(3).
Arief, B. N. (2014). Kebijakan kriminal. Jakarta: Prenadamedia Group.
Arifin, Z. (2010). Hukum dan demokrasi di Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Arifin, Z. (2021). Kebebasan berpendapat dalam negara demokrasi. Jurnal HAM, 12(2).
Arista C. Irawati. (2018). Pendekatan restorative justice dalam penanganan anak yang berkonflik dengan hukum.
Jurnal Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Jember, 14(2), 156–170.
Arista C. Irawati. (2019). Perlindungan hak anak dalam sistem peradilan pidana anak. Jurnal Rechtsvinding,
(1), 45–60.
Asyhabuddin, L. (2018). Keterlibatan anak dalam tindak kriminal. Jurnal Sosial Humaniora.
Bahar, S. (2018). Delinkuensi anak: Kajian kriminologis. Jakarta: Prenadamedia Group.
Barda Nawawi Arief. (2008). Bunga rampai kebijakan hukum pidana. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Bawengan, F. (2015). Psikologi anak dan remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). (2021). Evaluation study of the juvenile justice
system. Jakarta: Bappenas.
CNN Indonesia. (2024). Kasus anak terlibat penjarahan saat demo. Jakarta: CNN Indonesia.
DetikNews. (2023). Penanganan kepolisian terhadap anak pelaku demo. Jakarta: Detik.com.
Feubleman, J. K. (1973). Technology and progress. Dordrecht: D. Reidel Publishing Company.
Fariza, S. (2020). Pelanggaran hak anak yang berkonflik dengan hukum dalam proses penyidikan. Jurist-Diction.
Gosita, A. (1985). Masalah perlindungan anak. Jakarta: Akademika Pressindo.
Hoefnagels, G. P. (1973). The other side of criminology: An inversion of the concept of crime. Kluwer Deventer.
Hurlock, E. B. (2004). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta:
Erlangga.
International Labour Organization (ILO). (2020). Children in conflict with the law. Geneva: ILO.
Kanit Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Semarang. (2025). Wawancara
langsung. Polrestabes Semarang, 17 Desember 2025.
Kelsen, H. (1967). Pure theory of law. Berkeley: University of California Press.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2023). Informasi
perlindungan anak. Jakarta: KemenPPPA.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). (2022). Laporan tahunan KPAI. Jakarta: KPAI.
Kompas.com. (2024). Fakta baru anak terlibat demo anarkis. Jakarta: Kompas Gramedia.
Kepolisian Negara Republik Indonesia. (2022). Informasi penanganan aksi unjuk rasa. Jakarta: Polri.
Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI). (2023). Pendekatan restoratif untuk anak berhadapan
dengan hukum (ABH). Jakarta: LPAI.
Lestari, D., & Prabowo, H. (2024). Implementasi sistem peradilan pidana anak terhadap kejahatan politik
spontan di Indonesia. Jurnal Rechtsstaat, 18(1), 67–82.
Lubis, M. S. (1994). Filsafat hukum dan penelitian. Bandung: Mandar Maju.
Marlina. (2009). Peradilan pidana anak di Indonesia. Bandung: Refika Aditama.
Mertokusumo, S. (1999). Penemuan hukum. Yogyakarta: Liberty.
Moleong, L. J. (2021). Metode penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyani, R. (2021). Penahanan terhadap anak: Analisis yuridis. Jurnal Lex Crimen.
Muladi. (2018). Rehabilitation in juvenile criminal law. Bandung: Alumni Press.
Nugroho, D. A. (2022). Faktor penyebab anak melakukan kekerasan dalam demo. Jurnal Sosial Politik.
Nurhayati, E. (2023). Demonstrasi politik dan potensi eskalasi kekerasan massa dalam demokrasi Indonesia.
Jurnal Politik Profetik, 11(1), 22–38.
Pudjono. (2016). Penyidikan dalam sistem peradilan pidana. Jakarta: Rajawali Pers.
Putra, W. (2023). Fenomena anak berhadapan dengan hukum dalam kejahatan kolektif dan kerusuhan ma ssa.
Jurnal Ilmu Hukum Prima, 5(2), 112–125.
Putri, R. D. (2020). Pengaruh pola asuh orang tua terhadap perilaku menyimpang remaja. Jurnal Psikologi
Indonesia, 9(2), 121–132.
Rahardjo, S. (2006). Hukum progresif: Hukum yang membebaskan. Jakarta: Kompas.
Rahman, A. (2024). Juvenile justice in Indonesia: Principles and practices. Journal of Indonesian Legal Studies,
(3), 45–62.
Ritzer, G. (2014). Teori sosial modern. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Rizki, P. (2023). Penegakan hukum dalam demonstrasi yang melibatkan anak. Jurnal Hukum, 7(1).
Rukmini, M. (2020). Hukum perlindungan anak di Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Santrock, J. W. (2011). Adolescence. New York: McGraw-Hill.
Soekanto, S. (2002). Sosiologi: Suatu pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Suryani, N., & Purnomo, A. (2022). Children’s legal awareness in mass demonstration context. Journal of
Socio-Legal Studies, 11(2), 134–146.
United Nations Children’s Fund (UNICEF) Indonesia. (2021). Justice for children framework. Jakarta:
UNICEF Indonesia.
United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC). (2022). Juvenile justice system assessment. Vienna:
UNODC.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun
tentang Perlindungan Anak.
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka
Umum.
Undang-Undang Tahun 1945, Pasal 1 ayat (3).
Perkap Nomor 16 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengendalian Massa (Dalmas).
Perkap Nomor 7 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Pelayanan dan Penanganan
Penyampaian Pendapat Umum.
KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana).
KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana).
Zimbardo, P. G. (1969). The human choice: Individuation, reason, and order versus deindividuation, impulse, and
chaos. In Nebraska Symposium on Motivation. Lincoln: University of Nebraska Press.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Agil Faradina Rahayu, Arista Candra Irawati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







