Paparan Edukasi Seksual pada Masa Perkembangan Anak dan Remaja di Lingkungan Pendidikan
DOI:
https://doi.org/10.31004/joecy.v6i1.8216Keywords:
Pendidikan seksual, perkembangan remaja, perilaku seksual berisiko, kesehatan reproduksiAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat paparan pendidikan seksual pada anak dan remaja serta hubungannya dengan perilaku seksual berisiko di lingkungan pendidikan. Masa remaja merupakan periode perkembangan yang krusial, ditandai dengan perubahan biologis dan psikologis yang meningkatkan rasa ingin tahu terhadap seksualitas. Namun, keterbatasan akses terhadap pendidikan seksual yang akurat sering mendorong remaja untuk mencari informasi dari sumber yang tidak terverifikasi, sehingga berpotensi memicu perilaku seksual berisiko.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan kuesioner sebagai instrumen utama pengumpulan data. Data dikumpulkan melalui survei daring menggunakan Google Forms yang disebarkan kepada pelajar dan remaja berusia 14–23 tahun di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda. Jumlah responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini sebanyak 162 orang. Kuesioner mengukur tingkat paparan pendidikan seksual, sumber informasi yang diperoleh, serta intensitas perilaku seksual berisiko, termasuk konsumsi pornografi dan aktivitas seksual pranikah. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah menerima pendidikan seksual dari orang tua atau sekolah, dengan 55,0% tergolong memiliki tingkat paparan tinggi, 30,2% paparan sedang, dan 14,8% paparan rendah. Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara tingkat paparan pendidikan seksual dan perilaku seksual berisiko. Remaja dengan tingkat pendidikan seksual yang lebih rendah cenderung memiliki kecenderungan lebih tinggi dalam mengakses konten pornografi serta terlibat dalam aktivitas seksual dini.
Kesimpulan, pendidikan seksual memiliki peran penting dalam menurunkan perilaku seksual berisiko pada remaja. Pendidikan seksual yang memadai dan konsisten dapat berfungsi sebagai faktor protektif dalam proses perkembangan remaja, sedangkan paparan yang tidak mencukupi meningkatkan kerentanan terhadap perilaku seksual yang merugikan. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan program pendidikan seksual komprehensif baik di lingkungan keluarga maupun institusi pendidikan.
References
Aryani, N. P., Idyawati, S., & Salfarina, A. L. (2022). Kurangnya tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi. Jurnal Lentera, 2(1), 148–153. https://doi.org/10.57267/lentera.v2i1.168
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). Sage Publications.
Elis, C. F., Saputra, A. I., & Mindasari, H. (2024). Pengaruh media sosial TikTok terhadap pengetahuan bahaya seks bebas pada remaja kelas IX SMPN 6 Kota Batam. Zona Kedokteran: Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Batam, 14(1), 34–43. https://doi.org/10.37776/zked.v14i1.1378
Kim, E. J., Park, B., Kim, S. K., Park, M. J., Lee, J. Y., Jo, A. R., Kim, M. J., & Shin, H. N. (2023). A meta-analysis of the effects of comprehensive sexuality education programs on children and adolescents. Healthcare, 11(18), 2511. https://doi.org/10.3390/healthcare11182511
Pratiwi, W. D., & Sudaryanto, A. (2024). Pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi terhadap perilaku seksual remaja: Studi literatur. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 9(1).
Putri, S. S., & Anggraini, N. (2024). Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi di kelas XI SMAN 2 Karawang. MAHESA: Malahayati Health Student Journal, 4(12), 5450–5461. https://doi.org/10.33024/mahesa.v4i12.16219
Rahayu, S., Suciawati, A., & Indrayani, T. (n.d.). Pengaruh edukasi tentang kesehatan reproduksi remaja terhadap pengetahuan dan sikap seksual pranikah di SMP Yayasan Pendidikan Cisarua Bogor.
Sari, C. K., Futri, M., & Putri, D. (2025). Urgensi pendidikan seks di sekolah: Mencegah bukan mengajarkan, membangun generasi muda yang sehat dan bertanggung jawab. Morfologi: Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya, 3(3), 127–133.
Stanger-Hall, K. F., & Hall, D. W. (2011). Abstinence-only education and teen pregnancy rates: Why we need comprehensive sex education in the U.S. PLoS ONE, 6(10), e24658. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0024658
Stepahanie, M. G. (2024). The impact of comprehensive sexual education on adolescent attitudes and knowledge: Implications for program development and policy. Acta Psychologia, 3(3), 100–110. https://doi.org/10.35335/psychologia.v3i3.64
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
UNESCO. (2018). International technical guidance on sexuality education: An evidence-informed approach (Revised ed.). UNESCO.
World Health Organization. (2010). Developing sexual health programmes: A framework for action. World Health Organization.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Ikhwan El Akmal Pakpahan, Eric Wijaya, Alvin Alvin, Nadia Rahmadani, Fauzan Al Qori, Iqbal Iqbal

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





