Habitus Keagamaan Masyarakat Madura dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam
DOI:
https://doi.org/10.31004/joecy.v4i3.7601Keywords:
Habitus, Masyarakat Madura, Pendidikan Islam, Pesantren, Pierre BourdieuAbstract
Penelitian ini menganalisis konstruksi habitus keagamaan masyarakat Madura serta implikasinya terhadap sistem dan praktik pendidikan Islam. Dengan menggunakan kerangka teori Pierre Bourdieu, penelitian ini mengkaji bagaimana disposisi keagamaan yang terinternalisasi secara historis dan kultural (habitus) berfungsi sebagai modal budaya dan modal simbolik dalam mereproduksi struktur sosial dan pendidikan di Madura. Habitus keagamaan tersebut terbentuk melalui proses internalisasi nilai bhappa-bhabbhu-guru-rato yang menekankan kepatuhan hierarkis, penghormatan terhadap otoritas religius, serta dominasi peran Kyai dalam kehidupan sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam di Madura cenderung mempertahankan tradisionalisme pesantren sebagai identitas kultural, namun pada saat yang sama melakukan adaptasi selektif terhadap modernitas. Adaptasi ini dimediasi oleh Kyai sebagai pemegang modal simbolik tertinggi yang menentukan legitimasi inovasi pendidikan. Penelitian ini menegaskan bahwa dinamika pendidikan Islam di Madura tidak dapat dilepaskan dari konfigurasi habitus keagamaan yang berakar kuat dalam struktur sosial masyarakatnya.
References
Abdullah, I. (2006). Konstruksi dan reproduksi kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Aziz, A. (2015). Tradisi keagamaan dan pembentukan solidaritas sosial masyarakat pesantren. Jurnal Sosiologi Islam, 5(2), 145–162.
Bourdieu, P. (1977). Outline of a theory of practice (R. Nice, Trans.). Cambridge: Cambridge University Press.
Bourdieu, P. (1990). The logic of practice (R. Nice, Trans.). Stanford, CA: Stanford University Press.
Bruinessen, M. van. (1995). Kitab kuning, pesantren dan tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan.
Dhofier, Z. (2011). Tradisi pesantren: Studi pandangan hidup kyai dan visinya mengenai masa depan Indonesia (Edisi revisi). Jakarta: LP3ES.
Fananie, Z., & Sabardila, A. (2001). Sosiologi pendidikan: Kajian Islam dan budaya lokal. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Harkins, J. (1994). Authority and tradition in Indonesian Islamic education. Comparative Education Review, 38(1), 1–16.
Hefner, R. W. (2000). Civil Islam: Muslims and democratization in Indonesia. Princeton, NJ: Princeton University Press.
Kuntowijoyo. (2002). Perubahan sosial dalam masyarakat agraris: Madura 1850–1940. Yogyakarta: Mata Bangsa.
Mansurnoor, I. A. (1990). Islam in an Indonesian world: Ulama of Madura. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Mu’ammar, M. A. (2014). Pendidikan Islam dan tantangan globalisasi budaya. Jurnal Pendidikan Islam, 3(1), 23–41.
Mulyadi. (2012). Pesantren dan resistensi terhadap sekularisasi pendidikan. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 1(2), 89–104.
Pribadi, Y. (2013). Kiai dan politik lokal: Studi tentang elite pesantren di Madura. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rifai, M. A. (2007). Manusia Madura: Pembawaan, perilaku, etos kerja, penampilan, dan pandangan hidupnya. Yogyakarta: Pilar Media.
Rozaki, A. (2004). Otoritas keagamaan dan perubahan sosial: Studi tentang kyai di Madura. Jurnal Ulumul Qur’an, 15(2), 201–219.
Sukarni. (2012). Pendidikan Islam dan konstruksi identitas keagamaan masyarakat Madura. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 9(1), 67–84.
Syarif, Z. (2016). Pendidikan karakter berbasis pesantren di Madura. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 1(2), 133–150.
Wiyata, A. L. (2002). Carok: Konflik kekerasan dan harga diri orang Madura. Yogyakarta: LKiS.
Zamroni. (2011). Pendidikan dan demokrasi dalam transisi: Prakondisi menuju era global. Jakarta: Kompas.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Lailatul Faizah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





