Reinterpretasi Hadis "Satu Usus dan Tujuh Usus": Pendekatan Musykil Al-Hadits dan Hermeneutik
DOI:
https://doi.org/10.31004/joecy.v6i1.7431Keywords:
Reinterpretasi, Musykil al-Hadits, hermeneutika, etika konsumsi, moderasi IslamAbstract
Dalam literatur hadis, ada sekian hadis yang sepintas problematik secara makna (musykil), di antaranya hadis tentang “Muslim makan dengan satu usus dan non-muslim makan dengan tujuh usus”. Hadis ini seringkali dipahami secara tesktual sehingga secara teologis, antropologis, dan etis akan menjadi problematis. Pemahaman tekstual terhadap hadis ini berpotensi menimbulkan kesan diskriminatif serta bertentangan dengan realitas empiris dan prinsip Islam yang rahmat li al-‘alamin. Artikel ini bertujuan untuk melakukan reinterpretasi hadis tersebut melalui pendekatan Musykil al-Hadits dan hermeneutika. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif kepustakaan dengan melakukan analisis terhadap kitab hadis primer, syarah klasik, serta literatur kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa hadis tersebut bersifat simbolik dan etis, bukan biologis. Hadis ini menegaskan perbedaan orientasi hidup dan etika konsumsi antara muslim dan non-muslim, bukan perbedaan hakikat kemanusiaan. Dengan demikian, reinterpretasi ini meneguhkan relevansi hadis dalam konteks modern sebagai kritik terhadap gaya hidup konsumtif dan hedonistik
References
Ahmad Najib, Sifat Rasulullah sehari-hari (Bandung: Pustaka Al Amin)1996.
Al Qaradlawi.Yusuf. Al Madkhal Lidirasah Al sunnah An nabawiyah terj Pengantar studi Hadis oleh dede rodin dan Agus raharusun. (bandung: CV. Pustaka Setia) 1991.
Al-Aini, Badr al-Din. Umdat al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Fikr.
Al-Asqalani, Ibnu Hajar. (n.d.). Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
Al-Baihaqi, Ahmad bin al-Husain. (2003). Manaqib asy-Syafi'i (Mengenai pernyataan Imam Asy-Syafi'i tentang dampak kekenyangan). Kairo: Maktabah Dar at-Turats.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. (2001). Shahih al-Bukhari. Kitab al-At'imah (Buku Makanan), Hadis No. 5393.
Al-Namari, Ibnu Abdil Barr. (1967). At-Tamhid lima fi al-Muwatta' min al-Ma'ani wa al-Asanid. Maroko: Wizarah Umum al-Awqaf.
An Nawawi albantani. Nashaihul Ibad (menjadi santun dan bijak) terjemahan Fuad kauma (bandung: Irsyad Baitus salam).
An-Nawawi, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf. (n.d.). Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj. Kairo: Dar al-Hadits.
Budiono. Kamus lengkap bahasa Indonesia. (Surabaya: Karya Agung. 2005).
Gadamer, Hans-Georg. (2004). Truth and Method (Edisi Revisi). London: Continuum Publishing Group.
Hardiman, F. B. (2015). Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: Kanisius.
Ibnu Al-Jauzi, Abd al-Rahman. Kasyf al-Musykil min Hadits al-Shahihain. Riyadl: Dar al-Wathan.
Ibnu Baththal, Abu Al-Hasan Ali bin Al-Khalaf. Syarh Shahih al-Bukhari li Ibn Baththal: Riyadl: Maktabah al-Rusyd.
Kanisius.
Palmer, R. E. (2005). Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ricoeur, P. (1981). Hermeneutics and the Human Sciences: Essays on Language, Action and Interpretation. Cambridge: Cambridge University Press.
Ricoeur, Paul. (1981). Hermeneutics and the Human Sciences: Essays on Language, Action and Interpretation. Cambridge: Cambridge University Press.
Sumaryono, E. (1999). Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta:
Suryadi Metode Kontemporer Memahami hadits Nabi. (Yogyakarta, TERAS).
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muhamad Maimun, Helmi Helmi, Ahmad Fawaid

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







