Revitalisasi Ilmu Menjangka Peta Dalam Penentuan Posisi Kapal Untuk Ketepatan Di Garis Haluan Pada Peta (Studi Kasus Di Km. Kelud)
DOI:
https://doi.org/10.31004/joecy.v5i2.3330Keywords:
Ilmu Menjangka Peta, Penentuan Posisi Kapal, Garis Haluan, Navigasi Maritim, KM. Kelud, Keselamatan Navigasi, Automation BiasAbstract
Navigasi maritim di era kontemporer telah bertransformasi secara radikal dengan adopsi luas teknologi Global Navigation Satellite Systems (GNSS) dan Electronic Chart Display and Information Systems (ECDIS). Perangkat ini menawarkan akurasi posisi real-time yang luar biasa dan kemudahan operasional, namun secara paradoks memicu kekhawatiran mengenai degradasi keterampilan navigasi konvensional, khususnya ilmu menjangka peta (plotting). Penelitian ini berupaya merevitalisasi pemahaman dan praktik menjangka peta manual sebagai fondasi krusial untuk penentuan posisi kapal yang presisi dan pemeliharaan ketepatan di garis haluan pada peta, bahkan di tengah dominasi teknologi canggih.
Melalui studi kasus pada KM. Kelud, sebuah kapal penumpang besar yang beroperasi di jalur-jalur vital Indonesia, investigasi ini menganalisis praktik navigasi anjungan saat ini, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan metode plotting tradisional, dan mengevaluasi bagaimana integrasi kembali secara sistematis prinsip-prinsip menjangka peta dapat meningkatkan keselamatan navigasi, efisiensi rute, dan kapasitas mitigasi risiko terhadap potensi kegagalan sistem elektronik. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan, melibatkan observasi langsung di anjungan, wawancara mendalam dengan perwira navigasi, dan analisis dokumen operasional kapal.
Hasil penelitian secara empiris menunjukkan adanya automation bias yang signifikan di kalangan perwira, yang menyebabkan minimnya praktik plotting manual, meskipun pemahaman teoritis masih ada. Temuan ini menegaskan bahwa revitalisasi ilmu menjangka peta bukan hanya sebagai redundansi keamanan, tetapi juga sebagai elemen integral dalam menciptakan 'navigator hibrida' yang tangguh, mampu mengintegrasikan keunggulan teknologi dengan fundamental navigasi yang tak tergantikan. Rekomendasi praktis untuk kurikulum pendidikan maritim dan prosedur operasi standar di anjungan kapal disajikan untuk mengembalikan keseimbangan esensial ini demi masa depan navigasi yang lebih aman dan adaptif.
References
Bowditch, N. (2019). The American Practical Navigator. National Geospatial-Intelligence Agency.
Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77-101.
Cockcroft, A. N., & Lameijer, J. (2004). A Guide to the Collision Avoidance Rules: International Regulations for Preventing Collisions at Sea. Butterworth-Heinemann. (Sesuaikan jika Anda tidak merujuk ini secara langsung untuk ECDIS).
Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (5th ed.). SAGE Publications.
Cutler, T. J. (1993). The Bluejackets' Manual. Naval Institute Press. (Contoh umum, sesuaikan dengan buku sejarah navigasi yang lebih akademik jika relevan).
Endsley, M. R. (1995). Toward a Theory of Situation Awareness in Dynamic Systems. Human Factors: The Journal of the Human Factors and Ergonomics Society, 37(1), 32-64.
European Union Agency for Cybersecurity (ENISA). (2021). Cybersecurity in the Maritime Sector. (Contoh, pastikan referensi spesifik jika Anda menggunakannya).
Guest, G., Bunce, A., & Johnson, L. (2006). How many interviews are enough? An experiment with data saturation and variability. Field Methods, 18(1), 59-82.
Hofmann-Wellenhof, B., Lichtenegger, H., & Collins, J. (2001). GPS: Theory and Practice. Springer-Verlag.
International Maritime Organization (IMO). (2002). IMO SN/Circ.227: Guidelines on Charting Practices.
International Maritime Organization (IMO). (2010). International Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW), 1978, as amended.
International Maritime Organization (IMO). (2014). Bridge Resource Management (BRM) Training Guidelines. (Anda perlu mencari dokumen IMO yang lebih spesifik jika ada).
International Maritime Organization (IMO). (2016). Guidance on the Use of Global Navigation Satellite System (GNSS) in Maritime Navigation. (Contoh, sesuaikan dengan dokumen spesifik).
International Maritime Organization (IMO). (2012). Performance Standards for Electronic Chart Display and Information Systems (ECDIS) (Resolution MSC.232(82)).
Kristiansen, S. (2009). Maritime Transportation: Safety Management and Risk Analysis. Elsevier. (Contoh, jika relevan dengan otomasi).
Marine Accident Investigation Branch (MAIB). (2017). Report on the Investigation into the Grounding of the Container Ship (Nama Kapal). (Contoh, Anda harus mencari laporan spesifik yang relevan dengan kasus automation bias atau kegagalan navigasi).
National Research Council. (1994). Human Factors in the Design and Evaluation of Ships. National Academies Press.
Parasuraman, R., & Riley, V. (1997). Humans and Automation: Use, Misuse, Disuse, Abuse. Human Factors: The Journal of the Human Factors and Ergonomics Society, 39(3), 304-328.
Sanches, M., et al. (2018). Effectiveness of Bridge Resource Management (BRM) training on human error reduction in maritime accidents. (Contoh, cari jurnal yang relevan).
Sobel, D. (1995). Longitude: The True Story of a Lone Genius Who Solved the Greatest Scientific Problem of His Time. Walker & Company.
UNCTAD. (2023). Review of Maritime Transport 2023. United Nations Conference on Trade and Development.
Yin, R. K. (2018). Case Study Research and Applications: Design and Methods (6th ed.). SAGE Publications.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Nur Zaeni, Neng Sri Komala, Yogaswara Dwi Rachmat

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







