Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Dekai Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua Pegunungan

Authors

  • Fram Oktovianus Yalak Universitas Cenderawasih
  • Sarce Makaba Universitas Cenderawasih
  • Hasmi Universitas Cenderawasih
  • Arius Togodly Universitas Cenderawasih
  • Dolfinus Yufu Bouway Universitas Cenderawasih
  • Yacob Ruru Universitas Cenderawasih

DOI:

https://doi.org/10.31004/joecy.v5i2.3013

Keywords:

Kata kunci: tuberkulosis paru, faktor risiko, merokok, HIV, pendidikan, Puskesmas Dekai

Abstract

Tuberkulosis paru (TBC Paru) adalah penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, termasuk di Papua Pegunungan. Berbagai faktor risiko, seperti perilaku merokok, status HIV/AIDS, diabetes mellitus (DM), serta faktor sosial ekonomi, diketahui dapat memengaruhi kejadian TBC Paru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TBC Paru di Puskesmas Dekai, Kabupaten Yahukimo. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan kasus kontrol. Populasi penelitian terdiri dari seluruh pasien yang terdiagnosis TBC Paru dan kelompok kontrol yang tidak terdiagnosis TBC Paru di Puskesmas Dekai. Sampel penelitian terdiri dari 21 kasus TBC Paru dan 39 kontrol yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Penelitian ini dilakukan pada April-Mei 2025 di Puskesmas Dekai, Kabupaten Yahukimo. Uji statistik yang digunakan adalah chi-square atau Fisher’s Exact untuk uji bivariat dan odds ratio (OR) untuk mengukur kekuatan asosiasi antara faktor risiko dan kejadian TBC Paru. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis kelamin (p = 0,725; OR = 1,404; 95%CI (0,482 – 4,085)), umur (p = 0,619. OR = 1,545; 95%CI (0,511 – 4,672)), tingkat pendidikan (p = 0,568. OR = 1,581; 95%CI (0,544 – 4,600)), pekerjaan (p = 0,406. OR = 1,466; 95%CI (0,397 – 5,404)), jarak ke faskes (p = 0,653. OR =  1,500; 95%CI (0,504 – 4,466)), perilaku merokok (p = 1,000. OR = 0,943; 95%CI: (0,326 – 2,729)), status HIV positif (p = 0,568. OR = 1,581; 95%CI: (0,544 – 4,600)), dan status DM (p = 0,495. OR = 1,275; 95%CI: (0,341 – 4,771)) tidak berhubungan signifikan dengan kejadian TBC Paru. (p > 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor-faktor risiko yang diteliti dengan kejadian TBC Paru di Puskesmas Dekai. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lain di luar variabel yang diteliti kemungkinan memiliki peran lebih besar dalam kejadian TBC Paru di wilayah tersebut, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan cakupan variabel yang lebih luas.

References

Aditama, W., & Zulfikar, Z. (2021). Evaluasi program penanggulangan tuberkulosis paru di Kabupaten Boyolali. Kesmas, 7(6), 243–250.

Arisandi, M., & Novitry, F. (2024). Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Tuberkulosis di Rumah Sakit Umum Daerah. Lentera Perawat, 5(1), 1–10.

Chomaerah, S. (2023). Program pencegahan dan penanggulangan tuberkulosis di puskesmas. HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development), 4(3), 398–410.

Kakuhes, H., Sekeon, S. A., & Ratag, B. T. (2023). Hubungan antara Merokok dan Kepadatan Hunian dengan Status Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Tuminting Kota Manado. Jurnal KESMAS, 9(1), 96–102.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Laporan Nasional Program TBC-HIV 2021.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2021.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2022.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Situasi Tuberkulosis di Indonesia Tahun 2022.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Situasi Penyakit Tidak Menular dan Integrasi Layanan dengan TBC 2023.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Situasi Tuberkulosis di Indonesia Tahun 2023.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 2023–2024. Jakarta: Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Laporan Program Penanggulangan Tuberkulosis Tahun 2023. Jakarta: Kemenkes RI.

Makmun, H., & Dewi, R. C. (2021). Peran Budaya Lokal dalam Perilaku Kesehatan Masyarakat terhadap Tuberkulosis di Papua. Indonesian Journal of Public Health and Tropical Medicine, 3(2), 89–97.

Narasimhan, P., Wood, J., Macintyre, C. R., & Mathai, D. (2021). Risk factors for tuberculosis. Pulmonary Medicine, 2021, 828939.

Nugraha, A. B., Sari, D. K., & Hidayat, T. (2021). Hubungan Pendidikan dan Perilaku Kesehatan dengan Kejadian Tuberkulosis di Wilayah Timur Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 11(3), 201–208.

Pangaribuan, L., et al. (2023). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Tuberkulosis di Indonesia. Health Science Research Journal, 23(1), 10–15.

Pertiwi, I., et al. (2023). Ko-Infeksi HIV-TBC: Studi Cross Sectional. Jurnal Kesehatan Komunitas, 9(1), 173–181.

Prasetyo, D., Sari, M., & Hidayat, A. (2021). Prevalensi Penyakit Tidak Menular dan Dampaknya terhadap Beban Ganda Penyakit di Papua. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 11(4), 255–262.

Prasetyo, D., Wulandari, L. P., & Sari, M. (2021). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Tuberkulosis di Wilayah Pedesaan Indonesia: Studi Potong Lintang. Jurnal Medika Kartika, 6(3), 123–130.

Puskesmas Dekai. (2023). Laporan Program TBC Puskesmas Dekai Tahun 2023–2024. (Data tidak dipublikasikan, digunakan sebagai rujukan lokal).

Putri, F. A., Suryawati, C., & Kusumastuti, W. (2023). Evaluasi Pelaksanaan Program Penanggulangan Tuberkulosis Paru (P2TBC) di Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(3), 311–322.

Putri, M. A., Wulandari, R., & Kurniawan, A. (2021). Faktor Sosial Ekonomi dan Distribusi Tuberkulosis di Wilayah Timur Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 11(4), 267–275.

Sari, M., Hidayat, A., & Nugraha, B. (2023). Faktor Lingkungan Rumah dan Risiko Tuberkulosis di Wilayah Pedesaan Papua. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 18(1), 45–53.

Sembiring, R. M., Tarigan, A. P., & Brata, I. (2022). Efektivitas Penjangkauan Kesehatan Berbasis Komunitas terhadap Deteksi Dini TBC di Wilayah Terpencil Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 12(1), 77–85.

Siregar, A. F., & Lubis, M. D. (2022). Gambaran Faktor Risiko Tuberkulosis Paru di Wilayah Papua: Studi di Puskesmas Perbatasan. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 12(2), 145–152.

Siregar, A. F., Lubis, M. D., & Tarigan, R. (2022). Cakupan dan Tantangan Skrining TBC-HIV di Wilayah Papua: Studi Kasus di Fasilitas Kesehatan Primer. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 12(3), 189–197.

Sutriyawan, A., et al. (2022). Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Tuberkulosis. Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA), 4(1), 98–105.

Syam, N. S., Nurfita, D., & Rahmi, M. (2024). Implementasi Kebijakan Penanggulangan Tuberkulosis di Puskesmas Banguntapan I. PREPOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(1), 575–584.

Syukriadi, S. (2022). Analisis Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 7(2), 112–120.

Widyaningsih, T., & Prasetyo, D. (2023). Literasi Kesehatan dan Dampaknya terhadap Perilaku Pencegahan TBC di Masyarakat Papua. Jurnal Kesehatan Vokasional, 7(1), 45–54.

World Health Organization (WHO). (2020). Collaborative Framework for Care and Control of Tuberculosis and Diabetes.

World Health Organization (WHO). (2021). WHO Report on the Global Tobacco Epidemic, 2021: Addressing New and Emerging Products.

World Health Organization (WHO). (2022). Global Tuberculosis Report 2022.

World Health Organization (WHO). (2023). Global Tuberculosis Report 2023.

Downloads

Published

12-08-2025

How to Cite

Fram Oktovianus Yalak, Makaba, S., Hasmi, Arius Togodly, Dolfinus Yufu Bouway, & Yacob Ruru. (2025). Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Dekai Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua Pegunungan. Journal of Innovative and Creativity, 5(2), 11201–11219. https://doi.org/10.31004/joecy.v5i2.3013

Issue

Section

Articles