NIKAH SIRI PERSPEKTIF MAQASHID SYARI’AH: ANALISIS MASLAHAT DAN MAFSADAT TERHADAP PERLINDUNGAN KEUARGA

Authors

  • Ali Mustafa Institut Agama Islam Imam Syafii (IMSYA) Indonesia
  • Fauzi Ardian Institut Agama Islam Imam Syafii (IMSYA) Indonesia
  • Firda Sarina Siregar Institut Agama Islam Imam Syafii (IMSYA) Indonesia
  • Annisaul Aqilah Ayudata Institut Agama Islam Imam Syafii (IMSYA) Indonesia
  • Annisaul Aqilah Ayudata Institut Agama Islam Imam Syafii (IMSYA) Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.31004/joecy.v2i3.14643

Keywords:

nikah siri; maqashid syari’ah; pencatatan perkawinan; maslahat, siri marriage; maqashid al-shari'ah; marriage registration; maslahah

Abstract

ABSTRAK

Nikah siri merupakan praktik perkawinan yang secara umum dipahami sebagai perkawinan yang dilaksanakan menurut ketentuan agama tetapi tidak dicatatkan secara resmi oleh negara. Persoalan nikah siri tidak cukup dianalisis hanya dari segi terpenuhi atau tidaknya rukun dan syarat akad, tetapi juga perlu dilihat dari tujuan syariat dan akibat yang ditimbulkannya. Artikel ini bertujuan menganalisis nikah siri melalui perspektif maqashid syari’ah dengan menitik beratkan pada perlindungan hak istri, anak, harta, keturunan, dan kehormatan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual, perundang-undangan, dan maqashid syari’ah. Bahan penelitian diperoleh dari literatur fikih dan maqashid, peraturan perundang-undangan, Kompilasi Hukum Islam, serta artikel jurnal ilmiah. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara keabsahan akad menurut fikih dan kekuatan hukum perkawinan dalam sistem hukum Indonesia. Kompilasi Hukum Islam mengharuskan pencatatan perkawinan dan menyatakan bahwa perkawinan di luar pengawasan Pegawai Pencatat Nikah tidak mempunyai kekuatan hukum. Dari perspektif maqashid, pencatatan perkawinan dapat dipandang sebagai instrumen untuk merealisasikan kemaslahatan berkaitan dengan hifzuddin,hifzunnafs, hifzunnasl, hifzul mal, dan hifzul ‘irdh. Dengan demikian, penilaian terhadap nikah siri harus mempertimbangkan maslahat dan mafsadat konkret yang ditimbulkannya, bukan semata-mata status akad secara fikih.

ABSTRACT

Siri marriage (nikah siri) is a form of marriage generally understood as a union conducted in accordance with religious requirements but not officially registered by the state. The issue of siri marriage cannot be adequately examined solely from the perspective of whether the pillars and requirements of the marriage contract have been fulfilled; it must also be assessed in light of the objectives of Islamic law (maqashid al-shari'ah) and the consequences it may produce. This article aims to analyze siri marriage from the perspective of maqashid al-shari'ah, with particular emphasis on the protection of the rights of wives, children, property, lineage, and dignity. This study employs normative legal research using conceptual, statutory, and maqashid al-shari'ah approaches. The research materials were obtained from classical and contemporary Islamic jurisprudence and maqashid literature, statutory regulations, the Compilation of Islamic Law, and relevant scholarly journal articles. The findings indicate a distinction between the validity of a marriage contract under Islamic jurisprudence (fiqh) and the legal force of marriage within the Indonesian legal system. The Compilation of Islamic Law requires marriage registration and stipulates that marriages conducted outside the supervision of a Marriage Registrar have no legal force. From the perspective of maqashid al-shari'ah, marriage registration may be regarded as an instrument for realizing public benefit (maslahah) in relation to hifz al-din (protection of religion), hifz al-nafs (protection of life), hifz al-nasl (protection of lineage), hifz al-mal (protection of property), and hifz al-'ird (protection of dignity). Therefore, the assessment of siri marriage should take into account the concrete benefits and harms (maslahah and mafsadah) arising from the practice, rather than relying solely on the formal validity of             the            marriage    contract     under       Islamic     jurisprudence.

References

Abdullah, dkk. (2012). Al Fiqhu Al Muyassar. Riyadh: Madar Al Wathan Linnasyri

Departemen Agama RI, Kompilasi Hukum Islam (Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1998)

Faiz, A., & Slamet, S. R. (2025). Penetapan Isbat Nikah terhadap Perkawinan yang tidak Tercatat di Kantor Urusan Agama dan Implikasi Hukumnya terhadap Status Hukum Suami Istri dan Anak(Studi Kasus Penetapan Pengadilan Agama Jakarta Selatan Nomor 879/PDT.P/2021/PA.JS). Arus Jurnal Sosial Dan Humaniora (AJSH), 5(2), 2525–2534. https://jurnal.ardenjaya.com/index.php/ajsh/article/view/1524/989

Fauzan, Shalih bin Fauzan. (2002). Al Mulakhos Al Fiqhi. Riyadh: Dar Al Ashimah

Fikri, M., Rizki, M. R. A., Ramadhan, A. F., & Hikmatullah. (2026). Perkawinan dan Kewarisan dalam Perspektif Maqashid Al-Syari’ah: (Studi Kritis terhadap Praktik Masyarakat). Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 1(1), 4759–4774. https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/AlZayn/article/view/3887/2390

Irwan, M. (2021). Kebutuhan dan Pengelolaan Harta Dalam Maqashid syari’ah. Elastisitas: Jurnal Ekonomi Pembangunan, 2(3), 160–174. https://elastisitas.unram.ac.id/index.php/elastisitas/article/view/47/57

Jalaluddin, M. (2025). Analisis Konseptual Pernikahan Dalam Islam: Perspektif Hukum, Rukun, Serta Hak Dan Kewajiban Pasangan. HUKAGI: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 1(2), 156–173. https://jurnal.stisapamekasan.ac.id/index.php/HUKAGI/article/view/166/103

Khadimy, N. B. M. Al. (2001). Ilmu Maqashid syari’ah. Maktabatul ’Abiikan. https://shamela.ws/book/7310

Khairuddin. (2025). Pernikahan dalam Islam dan Relevansinya dengan Regulasi Hukum Keluarga Kontemporer. Insight: Indonesian Journal of Social, Humanity, and Education, 1(2), 72–82. https://journal.abdurraufinstitute.org/index.php/Insight/article/view/363/266

Kompilasi Hukum Islam. (n.d.).

Manzur Ibnu. (1993). Lisanul Arab. Beirut: Dar Shadir.

Muhaimin. (2020). Metode Penelitian Hukum. Mataram: Mataram University Press.

Nasrullah, A. M. A. (2025). Fikih Munakahat: Pernikahan Perspektif Hukum Islam di Indonesia (1st ed.). Nafal publisher.

Ningrum, F.W. (2025). Nikah Siri dan Dampaknya Terhadap Hak Perempuan dan Anak dalam Itsbat Nikah. Tadhkirah: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syari’ah, 2(1), 60-72. https://doi.org/10.59841/tadhkirah.v2i1.85

Rasyid, M. H., & Badwi, A. (2026). Pernikahan Siri’Dan Kerentanan Hak Perempuan: Analisis Maqashid syari’ah Terhadap Perlindungan Perempuan. Ash-Shahabah: Jurnal Pendidikan Dan Studi Islam, 12(1), 10-18.

Syafitri, D. S., Meliala, J. K., Parded, P. M., Panjaitan, S. R., Saragih, V. H., & Siahaan, P. (2025). Perlindungan Hukum bagi Pasangan dalam Perkawinan Tidak Tercatat (Siri) Terkait Kepemilikan Harta Benda. Journal of Indonesian Comparative of Syari’ah Law, 8(2), 489–512. https://jicl.journal.unida.gontor.ac.id/index.php/jicl/article/view/103/56

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 2

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019

Wahyuni, N. T. (n.d.). Fenomena Nikah Siri: Analisis Dampaknya Terhadap Status Anak, Hak Perempuan, dan Ketimpangan Gender Menurut Hukum Islam. Prosiding KNHI: Konferensi Nasional Hukum Islam. https://new-conference.unisma.ac.id/index.php/knhi/article/view/2009/1263

Downloads

Published

02-07-2026

How to Cite

Mustafa, A. ., Ardian, F. ., Siregar, F. S. ., Ayudata, A. A. ., & Ayudata, A. A. . (2026). NIKAH SIRI PERSPEKTIF MAQASHID SYARI’AH: ANALISIS MASLAHAT DAN MAFSADAT TERHADAP PERLINDUNGAN KEUARGA. Journal of Innovative and Creativity (Joecy), 2(3), 14–20. https://doi.org/10.31004/joecy.v2i3.14643

Issue

Section

Articles