Politisasi Ashabiyah Nahdhatul Ulama dalam Melanggengkan Nilai-Nilai Aswaja Terhadap Civil Society Melalui Kementerian Agama
DOI:
https://doi.org/10.31004/joecy.v5i2.1218Keywords:
Politisasi, Ashabiyah, Nahdatul Ulama, dan Konservatif.Abstract
Peribadahan di masyarakat Islam yang diambil dari dalil-dalil shohih masih menjadi problem di Islam Kontemporer. Bentuk ke-sanad-an dan doktrin Ashabiyah menjadi revalidasi masyarakat dalam memilah ajaran Islam untuk beribadah. Masyarakat cenderung melakukan politisasi agama dalam memilah sumber Islam, sehingga perbedaan beribadah sangat sulit diterima karena kuatnya politisasi Ashabiyah. Penelitian ini menggunakan literatur review untuk mendapatkan data primer dan skunder dari motif politisasi ashabiyah yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama.
Hasil penelitian menunjukkan masyarakat Islam Kontemporer motif bermazhab masih dilanggengkan melalui politisasi Ashabiyah Nahdlatul Ulama. Gerakan politisasi Ashabiyah Nahdlatul Ulama ditemukan 1) menjadikan masjid agung sebagai identitas yang ter-validasi dengan ibadah yang diakui negara, 2) penetapan hari besar adalah keputusan masyarakat Ashabiyah Nahdlatul Ulama.
References
Andrain. (1992). Kehidupan politik dan perubahan sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.
An-Najjar, I. M. A. (1993). Syarh al-Kaukab ad-Durri. Riyadh: Maktabah Ubaikan.
Asy-Syathiby, I. M. A. (1997). Al-Muwafaqat fi Ushul al-Fiqh. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
Baso, A. (2006). Islam Nusantara: Dialog Islam dan Budaya. Jakarta: Pustaka Pesantren.
Bruinessen, M. V. (2013). Contemporary developments in Indonesian Islam: Explaining the conservative turn. Singapura: Institute of Southeast Asian Studies.
Halili, R. (2018). Konflik dan integrasi intern umat beragama (Thesis). Surabaya: Universitas Sunan Ampel, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.
Hanafi, H. (1987). Al-Turath wa al-Tadid. Al-Qahirah: Maktabah Anjlu Misriyyah.
Hasan, M. A. (2022). Perbandingan mazhab. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Mukhibat. (2015). Rekonstruksi spirit harmoni melalui KPM Posdaya berbasis masjid di Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Ponorogo: STAIN Ponorogo, Prodi Tarbiyah.
Muslih, M. (2012). Pemikiran Islam kontemporer: Antara mode pemikiran dan model pembacaan. Tsaqafah, 8(2), Oktober.
Mutholib, M. Y. A. (2015). Terjemahan ringkasan Kitab Al-Umm. Jakarta: Pustaka Azzam.
Muzakki, A. (2010). Islam as a Symbolic Commodity: Transmitting and Consuming Islam through Public Sermons in Indonesia. Religion, Media, and the Public Sphere, 219-239.
Nashir, H. (2013). Islam dan Politik di Indonesia. Bandung: Mizan.
Nizar, S. (2002). Filsafat pendidikan Islam: Pendekatan historis, teoritis dan praktis. Jakarta: Ciputat Press.
Nurcahyono, O. H. (2021). Antropologi. Jakarta Selatan: Kemenristek.
Qomar, M. (2017). Pesantren: Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi. Erlangga.
Raharjo, S. (2007). Konflik antara NU dan Muhammadiyah (Skripsi). Yogyakarta: Universitas Sunan Kalijaga, Fakultas Adab, Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam.
Rubaidi. (2008). Membendung Arus Radikalisme: Akar Tradisi Pesantren sebagai Penjaga Nilai-Nilai Islam Moderat. Pustaka Pelajar.
Safitri, E. N. (2022). Manajemen konflik warga NU-Muhammadiyah. Ponorogo: IAIN Ponorogo, Fakultas Dakwah, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Supriyadi, D. (2008). Perbandingan mazhab dengan pendekatan baru. Bandung: CV Pustaka Setia.
Thoha, A. (1986). Terjemahan Muqoddimah Ibn Khaldun. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Yanggo, H. T. (1997). Pengantar perbandingan mazhab. Jakarta: Logos.
Zikri, A. (2018). Taqid dan talifiq dalam hukum Islam: Sebuah pengantar dalam tinjauan Maqashidus-Syari’ah. Al-Muamalat: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah, 3(1).
Zuhri, S. A. (2011). Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia. Bina Ilmu
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Amir Bandar Abdul Majid

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







